Tampilkan postingan dengan label mitologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mitologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Maret 2010

Valentine, Musim Semi, dan Kasih Sayang

Teramat wajar bagi kita yang tinggal di wilayah dua musim (musim kemarau dan musim hujan) tidak akrab dengan siklus empat musim (four seasons). Ketika kita mengatakan “musim semi”, “musim salju”, kita hanya bisa membayangkan atau mengingatnya melalui film dan gambar dari belahan bumi utara (northern hemisphere). Kita yang hidup di dunia tropis hanya mengenal matahari yang sangat terik dan hujan yang sangat deras.

Musim semi, bagi masyarakat di Eropa, Amerika Utara, dan Asia bagian Utara, adalah saat segala sesuatu mulai tumbuh kembali setelah mati pada musim salju. Musim semi dalam bahasa Inggris disebut “Spring”, yang dapat diartikan “muncul/tumbuh/keluar/melompat”. Meskipun musim semi yang paling aslinya baru dimulai pada Maret-April, sejak bulan Februari salju sudah mulai mencair di beberapa tempat.

Ada sedikit putik bunga, tunas-tunas baru, lumut yang mulai muncul. Suhu yang mulai hangat menumbuhkan mikro flora di tanah, sel-sel tumbuhan kembali hidup dan berjejaring, binatang-binatang kecil mulai terlihat beraktivitas. Bumi perlahan bangkit dari kematian, namun matahari masih bersinar malu-malu dan angin masih agak dingin.

Pohon Sauerkirsche (Sour Cherry/Prunus cerasus) di kala musim semi, Jerman

Di sisi lain, musim salju sangatlah berat bagi orang di belahan bumi utara. Jika salju sudah sangat tebal, apalagi jika terjadi badai salju, praktis orang tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa mendekam di rumah sambil menghangatkan diri di depan perapian.

Sering kita mengidentikkan hamparan salju dengan sesuatu yang romantis, seperti yang kita lihat di film-film. Padahal bagi mereka yang merasakannya secara langsung, musim salju sering diidentikkan dengan kematian, karena tidak ada tumbuhan yang dapat hidup di musim itu. Para herbivora hanya bisa mengais-ais kulit kayu atau beberapa biji-bijian berkulit keras yang masih dapat bertahan. Banyak binatang yang ber-hibernasi atau tidur panjang untuk menghemat panas tubuhnya. Manusia pun lebih mengurangi aktivitasnya di musim dingin.

Saat musim gugur, para petani di wilayah empat musim melakukan panen terakhir. Sebelum musim salju yang ganas datang, mereka bergegas untuk mengumpulkan persediaan makanan. Ini sangat sulit kita bayangkan, karena kita manusia tropis biasa melihat sawah-sawah yang selalu subur, gemah ripah loh jinawi, dan panen yang terjadi sepanjang tahun dengan siklus tanam yang berkelanjutan. Di musim basah, padi kita melimpah. Di musim kering kita masih bisa menanam jika irigasinya bagus, contohnya seperti di Bali dengan sistem subak yang terorganisir dari hulu ke hilir. Dewi Sri seperti tidak pernah marah terhadap kita.

Tapi tidak begitu halnya dengan belahan bumi utara, yang tidak seberuntung kita dalam segi iklim. Buat mereka, musim dingin adalah musim yang keras. Langit gelap karena matahari seakan enggan bersinar. Bahkan di wilayah kutub, orang jarang melihat matahari di musim dingin. Bayangkan angin sebeku freezer kulkas menerpa tubuh Anda setiap hari selama tiga bulan; musim salju lebih cocok disebut kejam dibanding romantis.

Apalagi musim dingin yang terjadi sejak akhir 2009 dan awal 2010 kali ini cukup keras akibat efek global warming. Media massa melaporkan, dari 50 negara bagian (states) di Amerika Serikat, sebanyak 49 states terkena salju, termasuk di wilayah yang notabene beriklim panas seperti Texas, Arizona, New Mexico, Louisiana, Florida, dan California. Hanya satu state yang tidak terkena salju, yaitu Hawaii, karena itu satu-satunya state yang berada di iklim tropis. Sedangkan beberapa wilayah yang berada di sebelah utara, yaitu Maine, Washington, Vermont, New York, Chicago, dan lain-lain, terkena badai salju yang sangat parah dan temperatur yang drop cukup jauh di bawah nol derajat celcius.

Jika banjir dan tanah longsor adalah katastrofi (bencana) di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti negara kita, salju pun menjadi katastrofi bagi wilayah di belahan bumi utara. Sedangkan belahan bumi selatan (southern hemisphere), seperti New Zealand, wilayah-wilayah selatan Australia, Argentina, dan Chile tidak begitu parah ketika musim dingin karena mereka cukup jauh dari kutub selatan. Di Argentina dan Chile paling selatan juga jarang ditempati manusia, sehingga risiko katastrofik musim salju bagi manusia sangat kecil.

Gambaran musim salju di Jerman

Sebab itu, ada alasannya mengapa musim semi, musim yang datang setelah musim salju, disebut sebagai masa segala sesuatu yang tadinya mati, hidup kembali. Musim semi melekat pada benak orang di belahan bumi utara sebagai musim yang melegakan, bagaikan sesak nafas yang kembali plong. Kegembiraan musim semi dan kesedihan musim dingin tergambar dalam mitologi-mitologi khas Barat, termasuk kisah-kisah unik di seputar Valentine’s Day, festival khas musim semi.

Jika kita membaca sejumlah mitologi Eropa, dari wilayah yang paling utara, yaitu mitologi Nordik, hingga wilayah paling selatan, yaitu mitologi Yunani, terdapat benang merah simbolisasi kematian-kelahiran kembali untuk menggambarkan drastisnya perubahan musim-musim. Mitologi Yunani termasuk yang cukup dikenal, karena peradaban Yunani Kuno secara umum dianggap sebagai peletak fondasi peradaban Barat. Kisah Persephone dari mitologi Yunani merupakan simbolisasi yang cukup popular mengenai siklus musim dingin dan musim semi.

Persephone, si dewi dua musim
Dalam mitologi Yunani, ada kisah Persephone, dewi musim panas cantik jelita yang diculik oleh Hades, dewa yang menguasai dunia bawah (underworld) yang gelap dan suram. Hades menculik Persephone untuk dijadikan permaisurinya di dunia bawah dan meninggalkan dunia terang yang indah di atas tanah. Dunia bawah (dalam bahasa Yunani: khthonik) adalah dunia orang mati atau tempat orang yang sudah meninggal. Dunia ini digambarkan terletak di bawah kaki kita berpijak atau bawah tanah. (Kelak, agama Kristen mengadopsi “dunia bawah” ini menjadi konsep “neraka”, namun lebih baik kita diskusikan itu pada kesempatan yang lain.)

Anyway, ibunda Persephone, yakni Dewi Demeter, sangat berduka atas kehilangan putrinya. Dia pun mencari ke semua tempat. Pada malam hari dia dibantu Hekate, dewi pembawa obor dan pelindung para penyihir. Hingga pada akhirnya Demeter menemukan gua yang dapat terhubung ke dunia bawah. Di mulut gua, Demeter dibantu Hermes, dewa yang dikenal orang Yunani sebagai psychopompos atau penghubung antara kehidupan dan kematian (Yunani; psykhe: jiwa, pompos: pengantar; Psychopompos: pengantar jiwa). Demeter berhasil mengambil kembali Persephone dari tangan Hades ketika Hermes membawanya pulang ke dunia atas. Persephone pun kembali ceria layaknya musim semi. Kembalinya Persephone ini dimaknai sebagai kembalinya musim semi atau kembalinya keceriaan setelah bersedih sekian waktu (seperti yang ditunjukkan Demeter).

Hermes membawa Persephone kembali ke pelukan ibundanya

Selesai? Tidak secepat itu. Konon, Persephone tidak segembira itu ketika kembali ke dunia atas. Ketika tinggal di dunia bawah, Persephone sempat memakan beberapa biji buah delima (pomegranate). Ada yang mengatakan, Hades memaksanya untuk memakan itu. Tapi ada juga yang bilang, itu memang keinginan Persephone sendiri karena dia memang jatuh cinta dengan Hades (ini yang namanya “witing tresno jalaran soko kulino” atau “cinta datang karena terbiasa”).

Buah delima (pomegranate; Latin: Punica granatum)

Yang jelas, buah delima yang dimakan itu membuat Persephone harus kembali ke tempat Hades pada setiap siklus waktu tertentu. Buah delima adalah buah perlambang cinta (yang juga menjadi simbol Aphrodite, Dewi Cinta), yang membuat Persephone rela meninggalkan dunia atas yang indah dan tinggal bersama Hades untuk kurun waktu tertentu. Hal inilah yang membuat Persephone mendapatkan julukan Dewi Dunia Bawah. Persephone adalah dewi dua alam (yang bernama Kore--artinya “gadis”--ketika di dunia atas dan bernama Persephone ketika di dunia bawah).

Orang-orang Yunani Kuno mainstream percaya bahwa ketika mereka mati, mereka akan kembali ke tempat Hades dan Persephone, raja dan ratu penguasa dunia bawah. Sementara para pengikut Pythagoras, filsuf matematika yang pernah mengembara ke India, percaya mereka akan mengalami reinkarnasi dan beberapa yang lainnya percaya mereka akan menjadi dewa/dewi jika menjalani hidup yang disiplin dan ketat. Aliran lainnya, para pengikut filsuf atomis-protodeistis Epicurus dan filsuf Yunani skeptis lainnya percaya mereka akan lenyap setelah mati, atom-atom terurai, alias tidak ada alam barzah.

Mitologi memang bukan kitab suci, namun rata-rata orang Yunani Kuno tetap menganggap kisah Persephone sebagai tradisi rakyat turun-temurun, lepas dari keyakinan pribadi mereka masing-masing. Sama halnya seperti Imlek yang dirayakan oleh semua orang Tionghoa, tidak peduli apakah mereka memang Kong Hu Cu, Buddhis, Kristen, Islam, atau atheis.

Turunnya Persephone ke dunia bawah dimaknai oleh orang Yunani Kuno sebagai masa memasuki musim dingin, yaitu musim gugur. Keceriaan lenyap dan berganti dengan kesedihan serta kesuraman. Duka cita itu semakin bertambah ketika musim dingin datang. Persephone yang masuk ke bawah tanah dimaknai sebagai kematian dan kedukaan seperti yang digambarkan lewat sedihnya Demeter. Bahkan Demeter tidak hanya sedih, dia marah kepada Hades dan membuat semua tumbuhan di bumi jadi mati (musim dingin). Demeter adalah Dewi Segala Tumbuhan dan Benih. Namun, karena Persephone telah “memilih” untuk tinggal di dua alam, terjadilah siklus musim dingin dan musim panas yang selalu berputar.

Lalu, apa hubungannya musim-musim itu dengan cinta dan Valentine’s Day? Valentine’s Day dirayakan di seluruh dunia pada 14 Februari. Di belahan bumi utara, bulan Februari dan Maret adalah saat-saat musim dingin akan berakhir, serta dimulainya persiapan untuk musim semi. Kisah Persephone di atas menjadi contoh bagaimana orang di belahan bumi utara dengan tradisi lokalnya memaknai perubahan dan siklus kehidupan. Dalam budaya-budaya lokal Eropa, cinta disimbolkan dengan musim semi (dan birahi atau “puncak cinta” disimbolkan dengan musim panas, musim yang datang setelah musim semi).

Siklus perubahan musim yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat agraris di utara memunculkan penceritaan dan simbolisasi “musim semi yang indah” dan “musim dingin yang kejam”. Pemaknaan ditemukan melalui kisah-kisah yang berbeda dan berujung pada festival-festival yang berbeda pula, namun tetap memiliki benang merah yang sama, yaitu perayaan kasih sayang; dari hasrat paling primitif hingga cinta ideal yang romantis.

Asal-usul Valentine yang beragam
Mitologi yang disampaikan secara turun-temurun dalam kisah rakyat (folk tale) itu menyatukan sekelompok suku bangsa dalam tradisi lokal dan ritual/festival yang khas. Setiap suku bangsa atau etnis memiliki kisahnya masing-masing, namun seringkali perdagangan, peperangan, pendudukan (koloni), membuat proses akulturasi antara budaya yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan terjadi.

Akulturasi, adaptasi, kooptasi, serta sinkretisasi yang dilakukan suatu budaya terhadap budaya lain membuat asal-usul suatu tradisi menjadi tidak ketahuan lagi. Kita agak sulit menentukan suatu akar penciptaan tradisi, kecuali dengan penelitian yang komprehensif dengan didukung penemuan-penemuan artefak dan peninggalan budaya. Selain itu, dominasi suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok lainnya dan dinamika politik dapat menghapus sejarah lama dan diganti dengan penulisan sejarah baru. Hanya beberapa etnis asli yang masih bertahan dengan kebudayaan asalnya, meskipun di masa kini ketahanan itu lama-lama tergerus. Akibatnya, proses penelusuran sejarah sering menjadi suatu hal yang rumit dilakukan.

Hari Valentine konon memiliki sejarah atau asal-usul yang sangat beragam. Masing-masing sejarahnya punya alur berbeda dan tidak bisa ditentukan mana yang paling valid. Banyak penelusuran sejarahnya hingga ke jaman-jaman yang jauh, yang berkaitan dengan ritus-ritus pagan untuk kesuburan dan penyucian. Semua festival tersebut sebenarnya merupakan simbolisasi yang dilakukan manusia untuk memaknai perubahan alam di sekitarnya dan tetap bertahan di kondisi alam yang keras.

Sebelum menelusuri akar festivalnya, ada baiknya kita menguak asal nama Valentine ini. Asal-usul lokalnya dan tradisi modernnya yang telah mengglobal cukup menjelaskan kenapa Arab Saudi, Pakistan, dan beberapa sekte fundamentalis Hindu di India melarang perayaan Valentine. Sebab, perayaan ini di satu sisi sangat erat hubungannya dengan sejarah agama Kristen dan di sisi lain mengandung nilai-nilai modern Barat yang profan. Merayakan Valentine berarti merayakan orang suci dari agama Kristen. Sedangkan beberapa sekte Hindu di India menilai, Valentine modern yang mengkomersialisasikan cinta adalah polusi budaya dari Barat.

Yang jelas, Valentine’s Day punya hubungan langsung dengan nama seseorang (atau beberapa orang). Cerita yang paling populer mengenai sejarah Valentine berkaitan dengan nama seorang martir/syahid Kristen yang diangkat menjadi orang suci/santo (St. Valentine). Namun, kisah Santo ini pun ada banyak, karena rata-rata martir Kristen banyak yang bernama Valentine (dalam lafal Latin disebut Valentinus).

Ada tiga Santo Valentine yang berbeda. Menurut catatan agama Katolik, perayaan pada 14 Februari adalah untuk memperingati Valentine dari Roma dan Valentine dari Terni. Valentine dari Roma adalah seorang pastor yang menjadi martir pada tahun 269 Masehi (M) dan mayatnya dikubur di Via Flaminia.

Sedangkan Valentine dari Terni menjadi uskup Interamna (saat ini disebut Terni) sekitar tahun 197 M. Dia menjadi martir ketika ada penganiayaan terhadap orang Kristen yang dilakukan Kaisar Romawi Claudius. Valentine Terni ini juga dikubur di Via Flaminia tapi lokasinya berbeda dengan Valentine Roma.

Menurut Ensiklopedi Katolik yang dikutip Wikipedia, ada Santo Valentine ketiga yang tercatat dirayakan pada 14 Februari. Santo yang satu ini menjadi martir di Afrika, tapi tidak ada catatan mengenai dia.

Santo Valentinus

Bagaimana santo(-santo) Valentine ini dapat diidentikkan dengan cinta? Menurut beberapa sejarawan, kisah Valentine sebagai Uskup Interamna (Valentine Terni) adalah yang paling banyak diterima sebagai sejarah Valentine yang sebenarnya. Pada 14 Februari tahun 270 M, dia mati di tangan Kaisar Claudius yang melarang agama Kristen hidup di kota Roma. Tapi banyak yang bilang bahwa Valentine Terni dan Valentine Roma adalah orang yang sama, sehingga ada satu-dua kisah yang berkaitan dengan Valentine dan lahirnya Hari Kasih Sayang.

Di saat itu, orang Kristen masih jadi minoritas di Roma. Valentine adalah seorang pastor dan banyak orang Kristen yang dipenjara atau dibunuh. Valentine kemudian dipenjara oleh sang Kaisar dan pada suatu ketika, Valentine membuat mukjizat. Dia mampu menyembuhkan gadis buta yang adalah putri sipir penjaranya. Tapi itu bukan berita bagus buat Kaisar Claudius. Valentine pun disiksa dan dipenggal. Sebelum menerima ajalnya, Valentine sempat memberikan secarik kertas untuk si gadis terkasih yang disembuhkannya. Di situ tertulis: “Dari Valentine-mu”.

Tapi ada kisah lain dengan plot yang berbeda, meskipun temanya masih seputar martir. Seorang pastor yang juga bernama Valentine hidup di masa pemerintahan Kaisar Claudius II, yang ketika itu Roma masih sibuk berperang untuk memperluas Imperium Romawi. Karena butuh tenaga tentara yang sangat banyak, Claudius menetapkan wajib militer bagi semua pemuda Roma yang masih single.

Tapi itu jadi masalah buat cowok-cowok Roma, karena mereka tidak rela meninggalkan kekasih dan keluarga, hanya untuk mati muda di medan perang demi kejayaan negara. Apa mau dikata, Claudius mengultimatum rakyatnya untuk membatalkan semua pertunangan dan pernikahan yang sudah siap dilaksanakan. Valentine tidak setuju dengan kebijakan kaisar itu dan membelot dengan cara memberikan upacara pernikahan diam-diam. Banyak pasangan yang dia nikahkan, tapi rahasia itu lama-lama ketahuan. Valentine pun mati di penjara.

Kemudian pada 496 M, ketika orang Kristen sudah menjadi mayoritas di Roma, Paus Gelasius I mengangkat Valentine sebagai Santo (Paus ini juga yang menghapuskan festival Lupercalia, sebuah festival pagan Romawi yang berhubungan erat dengan fertilitas. Lihat di sub-judul “Kembali ke sebelum masehi”). Kemudian pada 1969, Gereja Katolik Roma merevisi Kalender Para Orang Suci (Santo dan Santa) dengan menghapus perayaan Santo Valentinus pada 14 Februari.

Hal itu dilakukan karena sejarahnya makin kabur dan satu-satunya yang menjadi penjelasan sejarah adalah kabar bahwa Valentine dikubur di Via Flaminia pada 14 Februari. Tapi ada beberapa orang Katolik di negara Malta yang masih merayakan festival itu, karena relikui santo tersebut dipercaya ada di Malta. Festival Santo Valentinus juga masih dirayakan oleh beberapa orang Katolik tradisionalis yang mengikuti Kalender Pra-Vatikan II.

Valentine yang di-Anglo-Saxon-kan
Benang merah yang dapat disimpulkan dari kisah-kisah Santo Valentine tersebut adalah tidak adanya hubungan mereka dengan cinta sentimental seperti Valentine’s Day jaman sekarang. Profesor Jack Oruch dari University of Kansas mengatakan, Valentine baru diidentikkan dengan cinta sentimental di masa hidup penyair Inggris, Geoffrey Chaucer, pada abad ke-14. Festival Valentine kemudian di-Anglo-Saxon-kan atau di-Inggris-kan dan mulai tercerabut dari sejarah Latin-nya.

Chaucer adalah penyair yang pertama kali menghubungkan Valentine’s Day dengan cinta romantis. Dengan bahasa Inggris kuno abad pertengahan, dia menulis sebuah puisi berjudul Parliament of Foules pada tahun 1382. Puisi ini ditulis Chaucer untuk menghormati setahun pertunangan Raja Richard II dari Inggris dengan Anne dari Bohemia. Begini petikan dari puisi tersebut:

For this was one seynt Volantynys day
Whan euery bryd comyth there to chese his make.

(“For this was sent on Valentine’s Day, when every bird cometh there to choose his mate.”)

Sastrawan dan dramawan terkemuka William Shakespeare juga pernah menyebut Valentine dalam karyanya, Hamlet. Setelah itu, Valentine’s Day mulai menjadi budaya popular sejak abad 19 di Inggris, ketika mesin cetak mulai marak dan sebuah penerbit meluncurkan kartu Valentine untuk pertama kalinya, tepatnya tahun 1797. Kartu-kartu itu muncul untuk memenuhi permintaan para pemuda yang ingin merayu gadis-gadis, namun tidak mampu menulis puisi-puisi cinta yang sentimental.

Kartu Valentine pada tahun 1887

Budaya Victorian di Inggris waktu itu yang cenderung munafik dengan erotisisme juga membuat tradisi Valentine menjadi sesuatu yang erat dengan sentimentalisme. Cinta dalam kerangka Valentine’s Day identik dengan sesuatu yang cute atau manis, penuh pita-pita, bunga, hati, puisi, coklat, dan lain-lain. Valentine’s Day pun tersebar di Amerika Serikat pasca perang revolusi dengan Inggris di akhir tahun 1800-an.

Di negeri Paman Sam inilah Valentine’s Day jadi semakin terkomersialisasikan, karena Amerika mulai tumbuh menjadi negara industri. Kartu Valentine juga menjadi pelopor kartu-kartu holiday lainnya, seperti Christmas, New Year, dan Thanksgiving. Valentine’s Day mulai mengglobal ketika industri hiburan Amerika mulai menjual film-film, lagu, dan kesenian komersialnya pasca Perang Dunia ke-II.

Kembali ke sebelum Masehi
Jika sejarah Valentine ditarik lebih jauh lagi hingga ke masa sebelum masehi (SM; masa sebelum Yesus Kristus lahir), kita akan menemukan festival Gamelia di masa Yunani Kuno dan festival Lupercalia di masa Romawi. Rata-rata sejarawan melihat hubungan langsung perayaan Valentine’s Day dengan kedua festival tersebut, karena agama Kristen pertama kali mulai bertumbuh besar di Roma dan mengadaptasi berbagai festival agama lokal Romawi.

Agama Romawi tumbuh setelah (dan hampir bersamaan) dengan agama Yunani Kuno. Kemudian orang Romawi menjajah Yunani dan mengadaptasi kebudayaan Hellenistik sehingga terdapat banyak kemiripan dari segi mitologi dan festivalnya, sambil tetap mempertahankan tradisi Romawi yang jauh lebih kuno.

Festival-festival musim semi jatuh pada bulan Februari hingga Maret, dan rata-rata berkaitan dengan simbolisasi musim semi sebagai musim penyucian (purifikasi) dan kesuburan (fertilitas). Mungkin dari situlah muncul istilah spring cleaning di masyarakat Barat, yang berarti “bersih-bersih di musim semi” atau melakukan “penyucian” rumah dalam arti modern setelah salju mencair.

Festival musim semi yang paling luas dirayakan oleh semua orang Romawi adalah Festival Juno Februa, yang jatuh pada 13-14 Februari. Dari situlah nama bulan Februari diambil. Nama Juno Februa berarti “Juno yang mensucikan” atau “perawan Juno”. Bulan “Februarius” bagi masyarakat Romawi adalah bulan penyucian sekaligus persiapan untuk tahun baru yang pada masa itu dimulai pada bulan Maret.

Di Roma pada tanggal 15 Maret, ada festival Ides of March, yaitu pemilihan tahunan dua orang konsul baru yang akan memimpin Senat atau DPR-nya orang Romawi. Pada masa-masa ini, ada “bersih-bersih musim semi”, yaitu rumah-rumah disapu hingga bersih dan diperciki garam serta diutarakan doa-doa kepada dewata. Di Ides of March juga pernah ada peristiwa politik besar, yaitu Julius Caesar yang dibunuh oleh beberapa anggota Senat (yang menikam pisau adalah Brutus, yang dari namanya muncul istilah “Brutal”).

Kelak, agama Kristen mengambil alih kekuasaan di Roma dan mengganti perayaan “Perawan Juno” menjadi festival “Purifikasi Perawan Maria”. Perawan Maria adalah ibunda Yesus, sedangkan di mitologi Romawi, Juno adalah Dewi yang menjadi istri Dewa Jupiter. Juno dan Jupiter di beberapa sisi merupakan adaptasi dari Dewi Hera dan Dewa Zeus di mitologi Yunani.

Di masyarakat Yunani Kuno, ada festival paling awal setelah musim dingin memasuki masa-masa akhirnya, yaitu festival Gamelia. Festival ini jatuh pada bulan Gamelion, tepatnya antara pertengahan Januari dan pertengahan Februari. Seperti kalender Cina, kalender Yunani Kuno (hemerologio) adalah kalender Lunar yang mengikuti peredaran bulan. Siklusnya berbeda dengan kalender Gregorian atau kalender Masehi yang kita pakai sekarang, yang mengikuti peredaran matahari (Solar).

Sebenarnya setiap polis (negara-kota) di Yunani Kuno mengikuti kalender yang berbeda-beda untuk merayakan semua festival (dalam hal ini festival berarti ritual/ibadah publik). Namun, karena para arkeolog saat ini baru dapat mengumpulkan catatan perhitungan kalender di Athena, hingga kini kalender Yunani Kuno yang bisa digunakan adalah kalender Athenian/Attica. Dalam kalender ini, Gamelion adalah bulan kelima.

Menurut kalender Athenian, hari dimulai ketika matahari terbenam dan tahun dimulai pada hari pertama setelah titik balik matahari di musim dingin (winter solstice) . Namun setelah abad ke-6 SM, masyarakat Athena mengubahnya. Tahun baru jadinya dilaksanakan pada hari pertama di bulan pertama setelah titik balik matahari di musim panas (summer solstice). Jadi, tahun baru yang tadinya terjadi pada musim dingin, diubah ke musim panas. Hal itu membuat Gamelion menjadi bulan kelima (sedangkan di kalender Masehi, bulan Februari adalah bulan kedua).

Setiap bulan dalam kalender Athenian memiliki 29 atau 30 hari. Kadang setahunnya memiliki 12 bulan, kadang 13 bulan dengan 11 hari tambahan. Sedangkan tambahan 12 hari terjadi setiap empat tahun agar cocok dengan perhitungan tahun matahari sebanyak 365 hari.

Hal itu membuat bulan-bulan di kalender Athenian menjadi maju dan terkadang mundur jika kita membandingkannya dengan kalender Masehi. Kadang Gamelion jatuh pada pertengahan Desember hingga pertengahan Januari, kadang pertengahan Januari hingga pertengahan Februari.

Jika ini agak-agak bikin bingung, gak usah repot. Itu cuma untuk latar belakang saja. Yang jelas, bulan Gamelion artinya adalah “bulan perkawinan” dan Gamelia atau Theogamia adalah festival untuk merayakan perkawinan Dewa Zeus dan Dewi Hera (theo: dewa; gami/gamos: perkawinan). Festival ini diadakan pada hari ke-26 bulan Gamelion dan biasanya banyak pernikahan dilakukan di bulan ini.

Theogamia Hera dan Zeus. Dalam gambar ini juga ada Eros dan (mungkin) Anteros, serta burung merak  yang menjadi simbol Hera dan burung elang sebagai simbol Zeus. Eros adalah putra Dewi Aphrodite yang membuat seseorang jatuh cinta dengan tiba-tiba. Sedangkan Anteros adalah kebalikannya, membuat cinta bertepuk sebelah tangan.

Pada akhir bulan Gamelion, pendeta laki-laki (hiero) dan pendeta perempuan (hiera) melakukan perkawinan suci (Hieros Gamos) sebagai perlambang bersatunya Zeus dan Hera, raja dan ratu yang mengepalai semua dewata. Festival ini dimaknai sebagai simbol musim semi dan permulaan yang baru.

Sebelum Gamelia, ada festival yang bernama Lenaia dan diadakan pada tanggal 12-15 Gamelion. Festival ini agak hingar-bingar dibanding Gamelia, karena dilakukan dengan pesta semalam suntuk, dengan tarian kegembiraan, musik yang ramai, dan bergentong-gentong anggur untuk memuja Dewa Anggur, Dionysus. Tapi juga ada sisi khusyuk dari festival ini, yang dimulai dengan prosesi (iring-iringan), pembacaan puisi, nyanyian, dan kontes drama.

Puncak musim semi dalam tradisi Yunani Kuno adalah festival Anthesteria atau “festival bunga” di bulan Anthesterion, setelah bulan Gamelion lewat. Festival ini diadakan pada 11-13 Anthesteria, ketika kelopak bunga pertama muncul setelah musim dingin lewat. Festival ini sangat kuno dan pernah disebut dengan istilah “Older Dionysia”. Pada saat ini, pohon anggur mulai matang, sehingga para petani memulai lagi proses fermentasi anggur untuk dijadikan minuman dan juga sesajian bagi dewata.

 
Festival Anthesteria saat puncak musim semi, yang diadakan oleh Supreme Council of Ethnikoi Hellenes (YSEE) di Yunani.

Bangsa Romawi juga punya festival musim semi yang menjadi simbol purifikasi sekaligus fertilitas. Berbeda dengan Juno Februa yang dirayakan oleh semua orang Romawi, festival Lupercalia merupakan festival lokal khas kota Roma, karena berhubungan dengan sejarah berdirinya kota Roma. Festival ini dilakukan pada tanggal 15 Februari untuk merayakan Lupercus, Dewa Kesuburan Romawi meskipun sejarahnya agak kabur.

Sejarahnya konon sudah ada sejak kota Roma belum berdiri dan hanya ada Bukit Palantine yang menjadi tempat bernaung para gembala domba. Di daerah itu banyak serigala yang selalu mencoba memangsa domba-domba mereka. Nah, Lupercus dipercaya oleh mereka sebagai dewa pelindung hewan ternak. Nama Lupercus sendiri berasal dari “Lupus” yang artinya “serigala”.

Sejarah yang lain bilang, festival Lupercalia untuk memuja Faunus, Dewa Pelindung Pertanian dan Gembala (di Yunani, Faunus disebut dengan nama Pan, Dewa Pelindung Alam Liar, Hewan, dan Padang Rumput). Faunus atau Pan digambarkan sebagai dewa yang bertanduk dan berkaki kambing. Karena tabiatnya erat dengan kesuburan, keliaran, dan vitalitas, dia seringkali juga digambarkan memiliki penis (phallus/lingga) yang selalu ereksi. Dari nama Faunus muncullah istilah “fauna” atau hewan.

Faunus (atau Pan dalam mitologi Yunani)

Sejarah lainnya seputar Lupercalia adalah untuk memuja Dewi Rumina, yang kuilnya berada dekat dengan pohon ara. Di bawah pohon itulah, seekor serigala betina menyusui dua anak laki-laki kembar bernama Romulus dan Remus. Romulus adalah pendiri kota Roma. Menurut mitologi Romawi, mereka punya kakek bernama Numitor yang menjadi raja di kota Alba Longa.

Suatu ketika, Numitor dikudeta oleh kakaknya sendiri, yaitu Amulius. Anak perempuan Numitor, Rhea Silvia, dipaksa menjadi Perawan Vesta (Vestal Virgin) oleh Amulius. Vestal Virgins adalah para gadis yang disumpah tidak menikah untuk menjadi pendeta Dewi Vesta (di Yunani, Dewi Hestia), yang juga adalah dewi perawan. Dengan memaksa Rhea Silvia tetap menjadi perawan, Amulius berharap gadis itu tidak punya anak, sehingga tidak akan ada yang merebut tahta kerajaan.

Ternyata eh ternyata, Mars, Dewa Perang, jatuh cinta dengan Rhea Silvia, mereka bersetubuh, dan akhirnya Rhea Silvia melahirkan dua putra bernama Romulus dan Remus. (Mitologi memang penuh dengan cerita dewa/dewi yang jatuh cinta dengan sesama dewata atau pada manusia, kemudian melahirkan banyak keturunan, dengan kisah yang simpang-siur, bahkan banyak versi yang saling bertolak-belakang. Makanya banyak yang malas membacanya karena tokohnya terlalu banyak!)

Okay, jadi Amulius kaget dan takut kedua anak kembar itu merebut tahtanya. Amulius pun menculik kedua anak itu dan menaruh mereka di sebuah keranjang, kemudian dihanyutkan di Sungai Tiber yang sedang meluap (mirip kisah Nabi Musa). Alhasil, ketika sungainya surut, keranjang itu terdampar di pinggir Bukit Palantine, tempat para gembala-gembala domba yang tadi disebutkan.

Karena di daerah itu banyak serigala, datanglah seekor serigala betina ke keranjang itu. Tapi Romulus dan Remus tidak dimangsa, malah disusui dan dirawat sama serigala itu. Konon, ada burung pelatuk yang juga membawakan mereka makanan. Burung pelatuk adalah burung suci milik Dewa Mars, bapak biologis Remus dan Romulus.

Patung saudara kembar Romulus dan Remus yang disusui seekor serigala betina

Kemudian seorang raja bernama Faustulus menemukan bayi-bayi itu, kemudian diadopsilah mereka. Remus dan Romulus tumbuh menjadi lelaki dewasa yang gagah dan memimpin gerombolan gembala setempat untuk membalas dendam terhadap Amulius yang akhirnya tewas terbunuh. Remus dan Romulus akhirnya mengembalikan kerajaan itu kepada kakeknya. Kakak-beradik itu pun ingin mendirikan kota milik mereka masing-masing dan akhirnya memilih tempat suci ketika mereka disusui oleh serigala betina.

Romulus kemudian membangun tembok di Bukit Palantine. Tapi dasar cowok-cowok, Remus mengejek Romulus karena tembok yang dibangunnya terlalu pendek dan dengan sengaja melompatinya. Karena emosi, Romulus membunuh Remus (Romulus was an overly sensitive guy, I guess). Romulus pun meneruskan pembangunan tembok itu hingga akhirnya menjadi sebuah kota yang dinamakannya Roma, diambil dari namanya sendiri.

Sejak itulah, muncul festival Lupercalia setiap musim semi. Para pendeta berkumpul di Bukit Palantine, tepatnya di gua Lupercal. Entah pastinya untuk memuja Lupercus atau Faunus yang sama-sama menggunakan kulit kambing sebagai pakaian mereka, atau memiliki tanduk kambing dan kaki kambing. Sebab itu, para pendeta menyembelih sejumlah kambing untuk kurban di hari Lupercalia.

Banyak urut-urutan ritualnya, namun setelah meminum anggur, para pendeta itu berlarian ke jalan-jalan di Roma sambil menjunjung kulit kambing di atas kepala. Mereka juga berusaha menyentuh siapa pun yang mereka lihat (atau dalam hal ini, mencambuk pelan-pelan dengan kulit kambing itu, yang disebut dengan istilah februa). Para gadis biasanya sukarela mendekati para pendeta itu, sehingga ketika tersentuh, mereka merasa telah diberkati dan yakin bahwa dirinya subur, sehingga mereka nantinya lancar untuk melahirkan. Selain berkah kesuburan, kulit kambing itu juga diyakini dapat menyucikan, sehingga bisa melepaskan diri dari kutukan dan kemalangan.

Festival Lupercalia ini memang sangat penting bagi orang Roma, bahkan kependetaannya terdiri dari orang-orang VIP atau very important person. Para pendeta (luperci) dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Quintilii dan Fabii. Kedua nama itu juga menjadi nama gentes (klan) dari patrician Romawi. kelas patrician adalah para bangsawan, dan para luperci setidaknya juga menjadi anggota gentes itu. Bangsa Romawi terbagi menjadi dua kelas, yaitu patrician dan plebeian.

Meskipun kelas rakyat jelata, yaitu plebeian lama-lama berkuasa, para patrician tetap memegang jabatan kependetaan di Roma. Salah satu tetua (magister) pertama yang memimpin para luperci angkatan ketiga, Julii, adalah Marcus Antonius (Mark Antony), seorang jenderal yang setia kepada Julius Caesar dan Ratu Mesir Cleopatra yang menjadi gundik Caesar. Setelah Caesar dibunuh Senat, Marcus Antonius kabur ke Mesir dan menjadi kekasih Cleopatra, agar Kekaisaran Roma dan Kerajaan Mesir tetap menjalin hubungan bilateral yang kuat.

Karena Romawi adalah Imperium, kemana pun tentaranya pergi, tradisi Romawi pun dibawa oleh mereka. Banyak dari tentara Romawi yang tidak pulang hingga bertahun-tahun, sehingga budaya Romawi--plus Hellenistik--tumbuh di negeri jajahan mereka. Seluruh Eropa dan sebagian Timur Tengah telah terlatinisasi, hingga akhirnya paganisme Romawi digantikan oleh agama Kristen setelah Kaisar Konstantinus mengeluarkan dekrit untuk menjadikan Kristen sebagai agama negara.

Para tentara Romawi juga membawa tradisi Lupercalia ketika menjajah Perancis (Galia) dan Inggris. Salah satu perayaan di festival Lupercalia adalah lotere yang terdiri dari nama-nama gadis single di sebuah kotak. Satu pemuda berhak mengeluarkan satu kertas yang berisi nama seorang gadis, yang kemudian menjadi pacarnya selama festival itu berjalan atau bahkan seterusnya.

Ketika agama Kristen mulai berkuasa di Roma dan juga di setiap provinsi di Imperium Romawi, kebiasaan “undian cari pacar” ini berganti menjadi kebiasaan untuk melotere nama santo/santa di kalangan pemuka gereja. Pada perayaan Santo Valentinus saat itu, mereka menarik satu nama dari kotak dan nama santo yang keluar adalah santo yang harus dipelajari selama setahun, sekaligus berdoa kepada santo itu.

Hari ini, Valentine’s Day telah menjadi komoditas budaya popular, terlepas dari asal-usulnya yang bercabang seperti anak sungai. Ada yang memaknai Valentine’s Day dengan serius, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang mengharamkannya. Kendati begitu, perayaan hari kasih sayang di musim semi ini telah menjadi milik semua orang. Tidak hanya cinta terhadap kekasih, Valentine’s Day juga diingat sebagai hari kasih sayang untuk semua orang, teman dan sahabat, serta keluarga.
  
Selamat menjalani tahun 2010 dengan penuh kasih sayang!

Referensi dan sumber foto:
Greek Religion by Walter Burkert. 1985. Blackwell Publishing and Harvard University Press.
en.wikipedia.org/wiki/Spring_(season).htm
en.wikipedia.org/wiki/Valentine’s_day.htm
ancienthistory.about.com
meridiangraphics.net/Lupercalia.htm
en.wikipedia.org/wiki/Lupercalia.htm
en.wikipedia.org/wiki/Gamelia.htm
crystalinks.com/valentinesday.html
theoi.com/Khthonios/Persephone.html
paleothea.com/Myths/Persephone.html
news.yahoo.com/s/ap/20100213/ap_on_re_us/us_united_states_of_snow.htm
usatoday.com/weather/news/2010-02-11-nationwide-snow_N.htm
ysee.gr/index-eng.php
hellenion.org
novaroma.org
religioromana.net

Tulisan ini juga bisa dilihat di blog saya yang lain:
www.graceamianti.blogspot.com

Kunjungi juga blog saya mengenai industri keuangan di Indonesia:
www.indofinancenews.blogspot.com

Minggu, 13 Desember 2009

Mengenal Theologi Politheisme (Yunani)


Istilah-istilah politheis, monotheis, atheis, theis, henotheis, duotheis, pantheis, deis, dan lain-lain adalah hasil penamaan dari para ilmuwan sosiologi dan antropologi di masa modern (dengan meminjam etimologi dari bahasa Yunani). Ini adalah bagian dari proyek pencerahan agar ilmuwan Barat bisa ‘menamai’ dan ‘mengerti’ dengan jelas dunia di sekitarnya. Istilah politheisme sendiri diciptakan sebagai pembanding dari monotheisme.


Politheisme, dalam berbagai turunannya, yang bisa dikatakan sebagai keyakinan mula-mula sebelum datangnya agama Ibrahim (Yahudi, Kristen, Islam—selanjutnya disingkat YKI), sebenarnya adalah keyakinan yang sangat ‘natural’ sifatnya dibanding monotheisme YKI. Natural di sini berarti bahwa manusia pada dasarnya, pada awalnya, mencerap dunia dan alam semesta (kosmos) di sekitar dia hidup dengan persepsinya yang humanistik atau manusiawi. Dia mencerap dunia sesuai dengan apa yang dia alami sehari-hari, dan sangat lokal sifatnya, berdasarkan pada apa yang dia rasakan di sekitar dia. Oleh karena itu, politheisme biasa disebut dengan istilah ‘agama bumi’ atau ‘earth-based religion’.


Sedangkan monotheisme, terutama keyakinan YKI, tidak seperti itu. Mereka sangat mengandalkan wahyu dari langit, semacam wangsit. Oleh karena itu, mereka biasa disebut sebagai ‘agama langit’ atau ‘sky-based religion’. Tuhan YKI adalah tuhan yang maha esa, maha hebat, maha segalanya, sehingga dia bahkan bisa melangkahi hukum alam yang diciptakannya sendiri, misalnya dengan membuat mukjizat dan hal-hal yang sangat irasional. Politheisme terutama Hellenismos (Rekonstruksi Politheisme Yunani) tidak setuju dengan definisi tuhan maha esa (maha satu) yang maha hebat, maha segalanya, bisa melangkahi hukum alam yang diciptakannya sendiri, membuat mukjizat dan hal-hal yang sangat irasional, karena tuhan yang seperti itu sangat oxymoron, rancu, dan tidak dapat dipahami dengan akal sehat.


Hellenismos menekankan ketuhanan yang dapat dipahami dengan akal sehat (“The Gods of Reason”, seperti judul buku Timothy J. Alexander, seorang Hellenis). Selain itu, Hellenismos menekankan etika yang humanistik. Kami melihat konteks etika dengan kacamata manusiawi, mencari “ideal” atau yang terbaik dari dan untuk manusia, sehingga itulah yang menjadi hukum bersama. Tidak seperti agama YKI yang etikanya bagaikan jatuh dari langit, seperangkat ‘syariah’ dari tuhan di langit yang harus dijalankan manusia di bumi.


Menurut saya, politheisme lebih ‘natural’ buat manusia dibanding monotheisme. Saya pikir, ketika Nabi Ibrahim (Bapak kaum YKI) mengubah ‘posisi’ tuhan, yang tadinya di materi-materi yang eksis di sekitar kita, lalu pindah ke langit yang jauh, bahkan tak terjangkau oleh akal pikiran kita sebagai manusia biasa, justru membuat saya jadi jauh dengan ‘tuhan’ saya. Kenapa yang tadinya sudah dekat dibikin jauh? Ini tidak masuk akal dan sangat tidak manusiawi. Argumen Nabi Ibrahim kira-kira seperti ini: “Kenapa harus memuja matahari dan bulan? Seharusnya ada subjek yang lebih besar dari matahari, bulan, bintang, dll. Pasti ada sesuatu yang berdiri di belakang itu karena dia adalah pencipta semua benda langit itu, dan dialah yang seharusnya kita sembah.” Namun, orang seringkali tidak paham bahwa pemuja dewa-dewi bukanlah pemuja benda-benda yang ada di langit dan bumi (lengkapnya mengenai hal ini lihat di esai saya yang lain).


Sejumlah pertanyaan sulit yang tak terjawab oleh monotheisme
Agama YKI memuji konsep Ibrahim karena konsepnya lebih rasional. Konsepnya menekankan tuhan yang maha esa itu maha kuasa dan maha segalanya. Lagi-lagi menurut para Hellenis konsep itu justru tidak masuk akal. Kalau tuhan yang maha esa itu maha segalanya, lalu kenapa masih ada kejahatan di bumi ini? Kalau tuhan maha segala, omni-present (hadir di mana-mana), berarti kejahatan adalah bagian dari dia juga. Kalau orang membantah dan bilang bahwa kejahatan bukanlah bagian dari diri tuhan, tapi bagian dari iblis/setan/whatever, sekaligus mengatakan bahwa tuhan adalah maha segalanya, berarti sebenarnya yang mau dikatakan adalah ‘iblis juga bagian dari tuhan, dia adalah ciptaan tuhan juga, dibuat untuk menggoda manusia’.


Hal itu benar-benar berbenturan dan sangat tidak masuk akal. Kenapa tuhan yang katanya maha baik itu, tega menciptakan iblis dan kejahatan? Bagaimana mungkin kejahatan adalah juga bagian dari diri tuhan yang maha baik itu? Pasti dia itu tuhan yang skizofrenik. Tuhan yang baik sekaligus tuhan yang jahat. (Tanpa maksud melecehkan orang-orang yang bersetuju dengan konsep ‘skizofrenia’-nya filsuf Gilles Delleuze dan Felix Guattari. Istilah ‘skizofrenik’ yang saya maksud adalah ‘situasi yang teramat asing bagi manusia, bahkan bagi mereka yang ‘gila’ sekalipun.’)


Kalau YKI berargumen bahwa iblis diciptakan oleh tuhan sebagai ujian bagi manusia untuk menentukan apakah dia mau ikut jalan tuhan atau jalan iblis, berarti tuhan YKI memang tuhan yang egois. Karena dia adalah tuhan yang super-power dan maha benar, maka dia berhak menentukan bahwa orang-orang yang tidak mau meyakini bahwa dia itu benar, adalah orang-orang berdosa dan mereka adalah pengikut jalan iblis. Ini benar-benar tuhan yang childish, kejam, dan memperlakukan kita layaknya boneka. Dia seakan-akan mencemplungkan manusia ke bumi sebagai tempat ujian, “heh elu bertindak sesuai dengan keinginan gue, kalo kagak, imbalannya neraka!”


Sungguh malang kita diciptakan sebagai manusia. Kalau seperti itu, mendingan kita tidak usah diciptakan sekalian, kan? Iman terhadap tuhan yang seperti itu adalah iman yang benar-benar dangkal, kita cuma dikasih jalan dua: ke surga atau ke neraka. Manusia tampak berusaha keras sepanjang hidupnya untuk tidak menyimpang ke neraka, bahkan dengan cara-cara yang tidak manusiawi atau menyangkal kemanusiaannya sendiri. Benar-benar tuhan yang non-sense, irasional, otoriter, dan kejam.


Hellenismos adalah hard polytheism
Oleh karena itu kita harus membedakan antara hard polytheism dan soft polytheism, atau politheisme keras (politheisme murni) dan politheisme lembut (yang cenderung mengarah ke monotheisme). Hellenismos adalah hard polytheism, karena dia tidak setuju dengan konsep soft polytheism bahwa para dewata yang banyak itu sebenarnya cuma cerminan dari satu dewa/dewi. Soft polytheism menganggap bahwa para dewata yang jamak sebenarnya cuma pembanyakan dari satu dewa atau the great cosmic being (seperti henotheisme), atau dari satu dewa dan satu dewi (seperti konsep dualisme dalam Wicca, salah satu agama di bawah payung Neo-Paganisme).


Hellenismos tidak seperti itu. Walaupun Hellenismos percaya bahwa Zeus adalah dewa yang ‘mengepalai’ semua dewa, tapi dewa-dewi yang lain bukanlah pembanyakan dari diri Zeus. Mereka adalah entitas yang berbeda satu sama lain. Walaupun Zeus seringkali diceritakan bahwa Dia selalu menuntut kepatuhan dari dewa-dewi lainnya, tapi toch pada prakteknya semua dewa-dewi bertindak secara otonom dan masing-masing adalah pribadi yang unik. Masing-masing dewata memiliki wilayah kekuasaan/realm sendiri-sendiri yang bahkan sering bertentangan satu sama lainnya. Bagi yang sudah terbiasa dengan konsep monotheisme memang bakalan agak susah memahami konsep politheisme, karena kita dari kecil rata-rata dibiasakan untuk memercayai bahwa monotheisme adalah kebenaran absolut dan konsep lain dianggap tidak masuk akal. Apalagi ayat 1 dalam Pancasila menekankan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.


Lalu kenapa saya bisa percaya dengan konsep hard polytheism dalam Hellenismos? Karena saya memang tidak setuju dengan konsep monotheisme, juga soft polytheism yang cenderung mengarah pada monotheisme. Bagi saya, politheisme murni seperti yang ada dalam Hellenismos lebih masuk akal, karena “tuhan(-tuhan)” yang saya percaya akan lebih ramah dan lebih kaya jika jumlahnya banyak dan sifatnya berbeda-beda, ketimbang cuma satu atau dua dewa/dewi yang sifatnya ‘ya begitu aja’ atau justru ‘maha segalanya’. Bagi saya, Mereka (saya lebih suka menyebut ‘tuhan(-tuhan) saya dengan istilah ‘Mereka’ atau ‘Dewata’, ketimbang ‘tuhan’ doang atau ‘pencipta’) membuat hidup saya jadi ramai dan berwarna-warni. Saya bisa berinteraksi dengan beragam sifat dan wajah Mereka yang bertolak belakang satu sama lain, sering bertengkar, tapi sebenarnya Mereka fine-fine saja dan rukun. Bahkan, di balik gontok-gontokan itu Mereka saling menghargai satu sama lain dan selalu berpesta bersama (bahkan mabuk bersama sampai teler dan pingsan!).


Mungkin itu alasannya mengapa Dewa-Dewi Olympus sering disebut sebagai “keluarga” (dan dalam mitologi Mereka memiliki hubungan darah, apakah ayah, ibu, anak, paman, tante, keponakan, dll). Mereka memang sering cekcok, tapi toch Mereka tetap tidak dapat berpisah. Walaupun saya dan umumnya Hellenis punya ketertarikan terhadap satu atau beberapa Dewa/Dewi ketimbang yang lain, tapi kami tahu bahwa Dia adalah bagian dari Pantheon yang besar, bagian dari keluarga yang disebut Olympus. Oleh karena itu, kami juga tidak lupa memuja dan menghormati para Dewa/Dewi lainnya. Ini adalah agama yang semarak dan tidak egois. Agama yang ramah dan masuk akal (terutama bagi orang yang percaya akan keniscayaan pluralisme dalam kehidupan. Buat orang-orang yang—entah kenapa—mengharamkan pluralisme, tentu saja hal ini susah dimengerti!)


Inilah bagian yang teramat menyentuh saya secara feeling atau sense and sensibility. Konsep dewata yang seperti ini sebenarnya mencerminkan kondisi manusia, bahwa di bumi ini kita benar-benar beragam, bertolak-belakang satu sama lain, tapi why not kita rukun? Toh sebenarnya kita ini ya just living the life, jadi kenapa perbedaan itu dibikin ribut? Ini juga menjadi penjelasan mengapa para Dewata Olympus itu sangat antropomorfik alias sering digambarkan lewat patung dan gambar berbentuk manusia. Sosok Mereka sangat manusiawi, dengan wajah dan tubuh mirip manusia, kelakuan Mereka juga mirip manusia. Kaum Hellenis memahami kenapa orang Yunani menyimbolkan Dewata mereka secara antropomorfis. Alasannya adalah, dengan memuja dewata dalam gambaran itu, kita akan lebih mudah memahami tabiat Mereka. Masing-masing dewa-dewi punya kekuatan yang berbeda-beda, punya maksud dan tujuan yang berbeda. Adakalanya mereka bekerja sama, namun lebih sering berbenturan. Ini masuk akal. Lihatlah alam semesta (kosmos) yang chaos ini. Kacau tapi somehow tetap teratur. (Lengkapnya tentang filosofi ini, lihat esai saya yang lain).


Karena Dewata memiliki maksud dan tujuan yang berbeda, masing-masing juga punya pilihan untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Ini sama dengan ras manusia. Segala mitos, tradisi, dan apapun kisah yang menceritakan Dewata, punya satu pesan moral: bagaimana Dewata bergelut dengan pilihan-pilihan Mereka. Bagaimana aksi Mereka dapat berkontribusi kepada pilihan-pilihan yang diambil manusia. Bahkan para Dewata pun tidak kebal dengan pilihan-pilihan yang ada, Mereka juga sering salah pilih (bandingkan dengan Tuhan YKI yang seolah-olah tindakannya selalu benar). Tapi toch akhirnya amanat “mana yang benar” diserahkan kepada manusia itu sendiri. Theologi Yunani bukan semata-mata soal “benar” atau “salah”, tapi lebih kepada pilihan sikap/aksi kita, apakah menimbulkan kebaikan atau justru malapetaka. Tentunya, yang namanya pilihan, pasti banyak. Inilah ‘ruh’ atau ‘jiwa’ dari politheisme dalam Hellenismos, yaitu keberagaman.


Sebenarnya hal ini juga menjelaskan kenapa umat dari YKI itu saling gontok-gontokan antar mereka sendiri (padahal mereka, ironisnya, adalah saudara sekonsep, yaitu sama-sama ’umat Ibrahim’/‘umat ahli kitab’/Ahlul Kitab/People of the Book). Alasan saya mengkritik kaum monotheis YKI yang cupat adalah terutama karena sikap mereka yang merasa diri mereka paling benar. Sering kita lihat bagaimana mereka menyebarkan ajaran agama dengan cara yang cenderung memaksa. Tak heran, banyak orang yang tidak suka lagi dengan ajaran ketiga agama besar tersebut dan beralih menjadi atheis/agnostik. Mungkin saja sikap megalomania atau merasa benar sendiri itu berasal dari ‘psyche’ atau kesadaran jiwa mereka. Psike mereka sudah dikondisikan dengan konsep monotheisme, bahwa hanya ada satu tuhan yang benar. Di luar tuhan saya, itu tuhan yang palsu, salah, dan musyrik. Pandangan seperti itu pasti ditolak habis oleh para Hellenis, karena pandangan seperti itu sangat cupat dan tidak manusiawi. Sangat tidak seimbang dan berat sebelah, sangat tidak adil. Makanya, hal-hal semacam pemusnahan bid’ah, pembakaran buku, pembantaian umat agama tertentu, pemaksaan agar orang memeluk agama tertentu, perang suci (jihad), martir atau syahid, tidak ada dalam kebudayaan Yunani/Romawi kuno, karena buat orang Yunani/Romawi hal-hal seperti itu tak masuk akal karena pandangan dunia (worldview) mereka memang bukan begitu.


Sudut pandang yang beda terhadap ketuhanan
Plato bilang, “Kecemburuan berada di luar penjelasan keilahian”. Yang Ilahi tidak bisa diterjemahkan secara eksklusif, karena Mereka melampaui sekat-sekat perbedaan (tidak terbatas oleh perbedaan). Dalam mitologi, masing-masing dewa-dewi memang menuntut pemujaan yang layak dari manusia, namun tidak pernah sekali pun Mereka bilang bahwa kita tidak boleh memuja dewa-dewi yang lain. Contohnya begini, dalam karya Euripides “Hyppolitus”, Dewi Aphrodite menghukum Hyppolitus karena Hyppolitus “nyuekin” Dewi Cinta tersebut. Alasan Hyppolitus karena dirinya adalah seorang pemburu, makanya dia lebih suka memuja Artemis (Dewi Pemburu) dan mengesampingkan pemujaan terhadap Dewata lainnya. Sikap Hyppolitus sudah keterlaluan di mata Aphrodite. Suatu ketika, Hyppolitus lewat di depan patung Artemis dan Aphrodite yang berada di tempat yang sama. Kesalahannya adalah, dia memberi sesajen kepada Artemis saja, tapi Aphrodite tidak dikasih dan “dicuekin”. Parahnya lagi, Hyppolitus menghina Aphrodite sebagai “dewi yang gak penting”. Tentu saja, Aphrodite murka dengan sikap Hyppolitus tersebut. Itulah konsekuensi politheisme. (Agak mirip memang, dengan “apakah lelaki bisa adil jika poligami”, but that’s another story.)


Di situ sebenernya ada “pesan moral” politheis yang justru bertolak belakang dengan “pesan moral” monotheis: kita tidak bisa neglectful bahwa keilahian itu jamak. Hyppolitus itu seperti monotheis fanatik yang berkata bahwa “hanya satu tuhan yang benar, jadi gue nyembahnya satu aja, karena yang lain itu bukan tuhan.” Jadi, dia merasa berhak untuk bersikap tidak hormat terhadap “tuhan lain”. See...sikap kayak gitulah yang kerap dilakukan orang-orang yang gemar mengkafirkan orang beragama lain. Padahal tidak pernah sekali pun Aphrodite memerintahkan kepada Hyppolitus: “Hei, Hyppolitus, kamu gak boleh memuja Artemis! Sembahlah aku saja!” Tidak ada sama sekali dewata yang ngomong seperti itu, yang ada ialah Mereka berpesan, “Jangan lupakan bahwa aku (dan dewa-dewi yang lain-lain) itu ada dan juga patut dihormati. Jangan ngerasa benar sendiri dengan tuhan eksklusifmu”.


Yang jelas, Dewata tidak peduli apakah kita menyembah tuhan yang lain di samping Mereka. Kasarnya begini, kata Mereka, “Sebodo amat, elo mau nyembah buah nangka kek, mau nyembah Blackberry kek, selain nyembah gue juga, gue gak peduli.” Tapi yang penting bagi Mereka adalah, apakah kita dengan ikhlas memberikan pemujaan yang layak terhadap masing-masing Dewata, sehingga tidak ada satu pun dari Mereka yang merasa tidak dihormati “hanya karena kita gak begitu suka dengan dewa yang ini atau yang itu” atau karena “dewa yang ini atau yang itu gak terlalu berpengaruh buat hidup gue”. Ini adalah cara pandang yang berbeda dalam melihat ketuhanan. Menurut saya, theologi seperti itu membuka cakrawala berpikir kita. Bandingkan dengan konsep Tuhan YKI yang cenderung menyempitkan ketuhanan: “Tiada tuhan selain Allah” (Islam), “Aku (Yesus) adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada yang datang kepada Bapa selain melalui Aku” (Kristen), dan “Aku adalah allah yang pencemburu, jangan ada allah lain di sampingku” (Yahudi).


Politheisme tidak memungkinkan absolutisme
Oleh karena itu, dalam politheisme Yunani/Romawi tidak ada konsep absolut yang berlaku bagi semua pengikutnya. Kalaupun ada tradisi agama yang mengikat seluruh warga kota, itu karena kebiasaan yang berlaku dalam suatu polis (negara-kota, misalnya Athena, Sparta, Thrake, dll.). Lain polis, lain pula peraturan “agama” yang dijalankan. Jadi, kebiasaan di Athena berbeda dengan di Sparta, di Korinthus, di Siprus, di Lesbos, dan lain-lain. Yang jelas, dalam Hellenismos, tidak ada “kitab suci” dan tidak ada “nabi”. Percayalah, politheisme tidak memungkinkan adanya seorang nabi utusan tuhan dan sebuah buku suci yang dianggap sebagai satu-satunya sumber kebenaran, karena memang tidak mungkin untuk melakukan itu!


Bahkan, kependetaan atau keimaman dalam Hellenismos tidak sama dengan konsep imam di agama politheis lainnya, seperti Hindu, agama Babylonia, agama Mesir, agama Kanaan, dll. Di masa Yunani Kuno, pendeta (lelaki: hiero, perempuan: hiera) tidak berasal dari kasta “brahmana” atau golongan tertentu yang dianggap lebih tinggi atau lebih suci. Karena sistem politik Yunani Kuno adalah demokrasi, pendeta pun dipilih oleh warga kota secara rombongan/banyakan. Satu-satunya pertimbangan untuk dipilih adalah karena dedikasi orang tersebut terhadap dewa/dewi tertentu, bukan karena dia tampak lebih suci dibanding warga lainnya. Bahkan, kependetaan bisa dibeli dengan uang jika memang dia ingin memimpin upacara. Di masa itu, pendeta adalah semacam jabatan publik karena agama Yunani adalah agama publik/sipil, bukan seorang “wakil tuhan yang dikhususkan” atau semacam itu. Mereka hanya melayani upacara agama publik di kuil kota. Yang jelas, upacara-upacara yang sifatnya kecil di tingkat keluarga tidak pernah dipimpin oleh pendeta. Jadi, upacara kelahiran bayi, pernikahan, dan kematian dipimpin oleh kepala keluarga atau anggota keluarga lainnya yang ditunjuk, bukan pendeta atau ulama/penghulu seperti agama pada umumnya.


Di sisi lain, Hellenismos memang mengakui adanya “7 orang suci/bijak” atau “The Seven Sages”. Menurut sejarah arkeologis, salah satu dari mereka adalah Thales, filsuf Yunani pertama yang meneliti alam semesta. Mereka adalah para pendeta Dewa Apollo yang menulis Pepatah Delphi (Delphic Maxims) yang diyakini sebagai amanat dari Apollo mengenai kebijaksanaan. Tapi mereka tidak lantas “suci”, dalam arti lepas dari kesalahan manusiawi. Kaum Hellenis modern saat ini jelas memiliki kesadaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan memperlakukan Delphic Maxims sesuai konteksnya. Delphic Maxims tidak serta-merta dianggap sebagai “suara tuhan”. Contohnya, salah satu maksim berbunyi: “Kendalikan istrimu”. Kaum Hellenis modern memahami bahwa maksim tersebut harus dimaknai sesuai konteks sosial yang berlaku sekarang. Salah satu langkah adalah seperti yang dilakukan seorang Hellenis feminis dengan memberikan makna baru terhadap maksim tersebut, yaitu: “Kendalikan rumah tanggamu”. Itu bukti bahwa nilai-nilai agama yang patriarkal dan misoginis peninggalan masa lampau dapat dibuang kalau memang penganutnya bersedia!


Inilah mengapa Hellenismos adalah juga agama yang kontekstual, karena salah satu tugas dari Hellenismos (Rekonstruksi Politheisme Yunani) adalah mengadaptasikan agama Yunani Kuno ke dalam konteks masa kini. Beberapa hal tetap dipertahankan, beberapa hal memang harus diubah. Saya kira, ini sesuai dengan pesan Karen Armstrong, peneliti agama dan penulis buku Sejarah Tuhan. Karen mengatakan, agar bisa bertahan, agama harus berevolusi dan mengikuti semangat jamannya. Karena kalau tidak, agama itu lama-lama menjadi agama yang terbelakang dan kelak akan ditinggalkan oleh pengikutnya.


Disarikan dari berbagai sumber
Jakarta, Sabtu, 12 September 2009
Kharis Androgynou

Bookmark and Share