Si pencinta budaya Yunani dari Timur Jauh. Ancient Greece reformed, applied in modern daily life.
Jumat, 09 April 2010
Ares
Minggu, 25 Oktober 2009
Crazy Dionysus
O, raving madness
You dwell upon this heart and mind
when I feel like trapped in routines
when I just want to release them all
when I’m not sure where I want to go
when only a thin line drawn between cry and anger
You are there
I found you in outrageous rhyme and loud music
where tones seem not in their right place
where growls and screams are banging my eardrums
I found you in wine-drinking
delirious revelry--though so not me
exhausting all night party
I found you in misspelled languages
strange habits, unpredictable actions
like someone’s yelling “fire” at the theatre*
But I also could find you in a lonely dark room
when this rush of mind makes me feel like my head is going to explode
when I can’t handle it anymore
Anarchy, it’s been so long
It’s so rare--the passion to destruct all things built
though you’re indestructible
and life itself always exists
Although I’m not one of your Maenads, ripping clothes off, eating raw meats, fleeting into orgies
though I’m a city dweller, far from your hidden caves and wild forests
I need you sometimes--just a tiny lesson, otherwise I’ll end up on streets eating garbage--
to dance with you carelessly, without anything to worry
so I can keep the balance
so I can accept the fact
that there’s always insanity, peeping through the holes
waiting for the right time to knock heads off--it will happen, sooner or later:
when people trust their logic blindly
when people think that they are always capable of everything
when people put Order as a monolithic, one true and only god
* from Every Time I Die song “Champing at the Bit”
03:05
Selasa, 18 Agustus 2009
Terima Kasih, Hermes
Terima kasih, Hermes,
untuk jawabanMu atas doaku.
Kau berikanku kesempatan,
‘tuk bubuhkan
segores tinta hitam
di atas putihnya lembaran,
pertanda sah awal mula
jalanku sebagai karyawan.
Terima kasih, Hermes,
berbulan-bulan penantian
dituntaskan dengan kepastian
ku t’lah dapatkan pekerjaan.
Wahai Dewa pelindung perjalanan,
kehidupan publik dan perdagangan.
Bapa para pembicara dan persuasi,
Penguasa komunikasi dan transportasi.
Dewa pelindung dunia maya,
dunia beton dan gedung berkawat baja,
korespondensi dan interaksi massa.
Pemberi kecerdikan kepada petualang,
juga para pencuri, penjudi, dan pialang.
KarenaMu petaruh sejati jadi berani,
adu nasib, cari laba, hindari rugi,
adakan janji dan transaksi,
kejar prestasi dan beraksi,
dapatkan reaksi dan solusi.
KarenaMu kami mencari nafkah diri,
bekerja keras, membanting tulang setiap hari,
untuk makanan pokok kami,
yaitu nasi, gandum, maupun roti.
KarenaMu kehidupan ekonomi
tetap berjalan, modal tetap ditanam,
dan kami masih tetap berkarya,
serta mengurus rumah kami.
KarenaMu kami mampu
mengatur pemasukan dan pengeluaran,
tangkas mencari jalan ‘tuk lunasi hutang-hutang,
cerdik mencari jalan ‘tuk capai kekayaan.
Wahai Dewa yang ulung,
ajari aku fundamen terdasar dari ekonomi,
oikosnomos yang Kau ajari dulu di Yunani,
ilmu mengatur rumah tangga yang dimulai dari diri sendiri,
menjaga api Hestia agar tetap menyala,
yang artinya makanan selalu terhidang di meja,
supaya kami dapat mengucap syukur pada alam semesta,
dengan memberikan sedikit bagian dari konsumsi kami untuk Dewata,
karena kami telah mendapatkan berkat yang tak terhingga.
Karena itu semua, aku bersyukur, wahai Hermes,
Sang Pembawa Pesan dari Olympus,
yang sigap dan pekerja keras.
Ingatkan aku jika kusia-siakan pemberianMu,
tegurlah aku melalui Daimonku,
supaya Ia berikanku pelajaran berharga,
bahwa aku hanya manusia fana,
yang tak boleh biarkan sehari pun berlalu tanpa makna,
karena hidup cuma sekali saja.
Terima kasih, Hermes, padaMu kutujukan puisi ini,
kutuangkan air dan kubakar dupa yang wangi,
kukorbankan buah-buahan hasil bumi,
kupersembahkan sedikit hartaku serta puja-puji.
Khaire Theos...
Jakarta, Selasa, 23 Juni 2009
Kharis Androgynou
Hymne Untuk Gaia
Gaia, Ibu Bumi yang berdada subur,
bertubuh gembur,
Penyokong segala yang bernafas,
Penopang segala yang berjalan di atas
wajahmu, Pemberi anugerah berbuah-buah,
panen ladang melimpah ruah.
Kau sediakan energi setiap hari,
Kau tumbuhkan tunas-tunas hijau baru takkan mati,
Kau berikan berkat tak terkira ‘tuk kami,
Kau bermurah hati pada manusia meski kami sering tak sadari,
justru kami selalu sakiti wajahmu berkali-kali.
Milyaran beton tusuki setiap sudutmu wahai dewi,
kami pangkas ribuan hutan hujan,
kayu-kayu harummu jadi perabot mewah kesayangan.
Dari dalam perutmu kami sedot emas hitam,
kami gunakan habis-habisan hingga langit menjelaga kelam,
melubangi selubung pelindung,
hingga panas cahaya Helios mengepung
seluruh permukaanmu, melelehkan sudut-sudutmu yang terdingin di ujung-ujung,
menaikkan amarah Poseidon yang menopang laut-lautmu,
menggusarkan para Anemoi yang bertiup ganas hingga nelayan tak mampu berburu.
Oh Ratu Kehidupan, Ibunda yang mahakaya,
Gaia yang tua, Bumi yang purba,
ajari kami ‘tuk selalu menjaga
segala hadiahmu, agar selalu lestari
tempat tinggal kami.
Ajari kami ‘tuk selalu menanam kembali
bebuahan yang telah kami cabuti,
“karena engkau yang menjangkarkan dunia kekal dalam kami” (1)
Gaia sang penumbuh dan sang penghancur,
Ibunda yang kukuh dan luhur,
“Kau berikan dan kau ambil kembali
setiap hidup manusia fana, kau beri
kekayaan pada mereka yang menghormati
dan menyenangkan hatimu wahai dewi Bumi.” (2)
Ingatkan kami ‘tuk selalu merawat
lingkungan kami agar selalu sehat
sehingga kami dapat berjiwa kuat.
Inilah ucapan syukur kami pada musim baru,
berikanlah segala bebuahan yang ‘kan kami rayakan dengan haru,
agar kami tak berhenti bernyanyi untukmu.
(1) dicuplik dari Hymne Orphic untuk Gaia
(2) dicuplik dari Hymne Homeric untuk Gaia
Kalender Solar Gregorian: Selasa, 31 Maret 2009 Masehi
Kalender Lunar Athenian: 4 Mounykhion, Tahun ke-4 dari Olympiad ke-696
Pukul 11:25 - Pasca pengendapan Earth Hour dan renungan aroma hujan
