Tampilkan postingan dengan label hymne. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hymne. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2010

Ares


Penguasa medan tempur
Bersuka atas manusia gugur
Bersimbah darah, merah,
Tubuh yang pecah.

Brutal, kau bersuka dalam luka
Tebasan pedang, tusukan tombak, koyak
Jeritan benci, amarah senandungmu.

Phobos sang ketakutan
Deimos sang kepanikan
Adalah anak-anakmu.

Kau sebarkan api di kota, hancur-leburkan peradaban
Kau jarah desa-desa, murka, keluarga terceraiberaikan
Maut yang kau bawa, bau anyir kematian.

Wahai, Dewa Perang dari Thrakea
Ingatlah Aphrodite sang Dewi Cinta
Hanya di ranjangnya
Kau rela redakan angkara.

Pasrah, rebah, menyerah,
Kekasih sejatimu, dialah
Dari kau dan dia, lahirlah Harmonia,
Keselarasan,
Sehingga Kosmos terjaga dalam kedamaian.

Berikan sedikit keberanianmu, Ares,
Berikan sedikit rasa sakit,
Agar kupahami harga sebuah perjuangan
Menuju keutamaan.


9 April 2010

Minggu, 25 Oktober 2009

Crazy Dionysus


Written by Grace Dwitiya Amianti (Kharis Androgynou)



O, raving madness

You dwell upon this heart and mind

when I feel like trapped in routines

when I just want to release them all

when I’m not sure where I want to go

when only a thin line drawn between cry and anger

You are there


I found you in outrageous rhyme and loud music

where tones seem not in their right place

where growls and screams are banging my eardrums


I found you in wine-drinking

delirious revelry--though so not me

exhausting all night party


I found you in misspelled languages

strange habits, unpredictable actions

like someone’s yelling “fire” at the theatre*


But I also could find you in a lonely dark room

when this rush of mind makes me feel like my head is going to explode

when I can’t handle it anymore


Anarchy, it’s been so long

It’s so rare--the passion to destruct all things built

though you’re indestructible

and life itself always exists


Although I’m not one of your Maenads, ripping clothes off, eating raw meats, fleeting into orgies

though I’m a city dweller, far from your hidden caves and wild forests

I need you sometimes--just a tiny lesson, otherwise I’ll end up on streets eating garbage--

to dance with you carelessly, without anything to worry

so I can keep the balance

so I can accept the fact

that there’s always insanity, peeping through the holes

waiting for the right time to knock heads off--it will happen, sooner or later:

when people trust their logic blindly

when people think that they are always capable of everything

when people put Order as a monolithic, one true and only god


* from Every Time I Die song “Champing at the Bit”


Jakarta, October 25, 2009

03:05



Bookmark and Share

Selasa, 18 Agustus 2009

Terima Kasih, Hermes


Terima kasih, Hermes,

untuk jawabanMu atas doaku.

Kau berikanku kesempatan,

‘tuk bubuhkan

segores tinta hitam

di atas putihnya lembaran,

pertanda sah awal mula

jalanku sebagai karyawan.


Terima kasih, Hermes,

berbulan-bulan penantian

dituntaskan dengan kepastian

ku t’lah dapatkan pekerjaan.


Wahai Dewa pelindung perjalanan,

kehidupan publik dan perdagangan.

Bapa para pembicara dan persuasi,

Penguasa komunikasi dan transportasi.

Dewa pelindung dunia maya,

dunia beton dan gedung berkawat baja,

korespondensi dan interaksi massa.

Pemberi kecerdikan kepada petualang,

juga para pencuri, penjudi, dan pialang.


KarenaMu petaruh sejati jadi berani,

adu nasib, cari laba, hindari rugi,

adakan janji dan transaksi,

kejar prestasi dan beraksi,

dapatkan reaksi dan solusi.


KarenaMu kami mencari nafkah diri,

bekerja keras, membanting tulang setiap hari,

untuk makanan pokok kami,

yaitu nasi, gandum, maupun roti.


KarenaMu kehidupan ekonomi

tetap berjalan, modal tetap ditanam,

dan kami masih tetap berkarya,

serta mengurus rumah kami.


KarenaMu kami mampu

mengatur pemasukan dan pengeluaran,

tangkas mencari jalan ‘tuk lunasi hutang-hutang,

cerdik mencari jalan ‘tuk capai kekayaan.


Wahai Dewa yang ulung,

ajari aku fundamen terdasar dari ekonomi,

oikosnomos yang Kau ajari dulu di Yunani,

ilmu mengatur rumah tangga yang dimulai dari diri sendiri,

menjaga api Hestia agar tetap menyala,

yang artinya makanan selalu terhidang di meja,

supaya kami dapat mengucap syukur pada alam semesta,

dengan memberikan sedikit bagian dari konsumsi kami untuk Dewata,

karena kami telah mendapatkan berkat yang tak terhingga.


Karena itu semua, aku bersyukur, wahai Hermes,

Sang Pembawa Pesan dari Olympus,

yang sigap dan pekerja keras.


Ingatkan aku jika kusia-siakan pemberianMu,

tegurlah aku melalui Daimonku,

supaya Ia berikanku pelajaran berharga,

bahwa aku hanya manusia fana,

yang tak boleh biarkan sehari pun berlalu tanpa makna,

karena hidup cuma sekali saja.


Terima kasih, Hermes, padaMu kutujukan puisi ini,

kutuangkan air dan kubakar dupa yang wangi,

kukorbankan buah-buahan hasil bumi,

kupersembahkan sedikit hartaku serta puja-puji.

Khaire Theos...


Jakarta, Selasa, 23 Juni 2009

Kharis Androgynou


Bookmark and Share

Hymne Untuk Gaia


Gaia, Ibu Bumi yang berdada subur,

bertubuh gembur,

Penyokong segala yang bernafas,

Penopang segala yang berjalan di atas

wajahmu, Pemberi anugerah berbuah-buah,

panen ladang melimpah ruah.


Kau sediakan energi setiap hari,

Kau tumbuhkan tunas-tunas hijau baru takkan mati,

Kau berikan berkat tak terkira ‘tuk kami,

Kau bermurah hati pada manusia meski kami sering tak sadari,

justru kami selalu sakiti wajahmu berkali-kali.


Milyaran beton tusuki setiap sudutmu wahai dewi,

kami pangkas ribuan hutan hujan,

kayu-kayu harummu jadi perabot mewah kesayangan.

Dari dalam perutmu kami sedot emas hitam,

kami gunakan habis-habisan hingga langit menjelaga kelam,

melubangi selubung pelindung,

hingga panas cahaya Helios mengepung

seluruh permukaanmu, melelehkan sudut-sudutmu yang terdingin di ujung-ujung,

menaikkan amarah Poseidon yang menopang laut-lautmu,

menggusarkan para Anemoi yang bertiup ganas hingga nelayan tak mampu berburu.


Oh Ratu Kehidupan, Ibunda yang mahakaya,

Gaia yang tua, Bumi yang purba,

ajari kami ‘tuk selalu menjaga

segala hadiahmu, agar selalu lestari

tempat tinggal kami.

Ajari kami ‘tuk selalu menanam kembali

bebuahan yang telah kami cabuti,

“karena engkau yang menjangkarkan dunia kekal dalam kami” (1)


Gaia sang penumbuh dan sang penghancur,

Ibunda yang kukuh dan luhur,

“Kau berikan dan kau ambil kembali

setiap hidup manusia fana, kau beri

kekayaan pada mereka yang menghormati

dan menyenangkan hatimu wahai dewi Bumi.” (2)


Ingatkan kami ‘tuk selalu merawat

lingkungan kami agar selalu sehat

sehingga kami dapat berjiwa kuat.

Inilah ucapan syukur kami pada musim baru,

berikanlah segala bebuahan yang ‘kan kami rayakan dengan haru,

agar kami tak berhenti bernyanyi untukmu.


(1) dicuplik dari Hymne Orphic untuk Gaia

(2) dicuplik dari Hymne Homeric untuk Gaia


Kalender Solar Gregorian: Selasa, 31 Maret 2009 Masehi

Kalender Lunar Athenian: 4 Mounykhion, Tahun ke-4 dari Olympiad ke-696

Pukul 11:25 - Pasca pengendapan Earth Hour dan renungan aroma hujan


Bookmark and Share